Jumat, 23 Desember 2011

Makna-makna Asmaul Husna (Bag.1)

Oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc.


Para ulama mengatakan bahwa kemuliaan sebuah ilmu dinilai dari kemuliaan yang dipelajari. Berarti ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang mempelajari tentang Dzat yang Maha Mulia yaitu Allah I, tentang hak, nama, serta sifat-sifat-Nya. Tak heran bila Nabi n lalu memberikan motivasi kepada umat ini untuk mempelajari tentang Asma` (nama) dan Sifat Allah I dengan menyebut fadhilah (keutamaan) dari mempelajarinya. Sabda beliau n:
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa melakukan ihsha` padanya maka ia akan masuk ke dalam Al-Jannah.” (Shahih, HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah z)
Makna ihsha`, bila kita terjemahkan berarti ‘menghafal/menyebut’, tapi apakah sekedar itu maksudnya? Tentu tidak demikian. Ibnul Qayyim t jelaskan bahwa ihsha` memiliki tiga tingkatan:
1.    Menyebut lafadz-lafadz-Nya dari jumlah yang ada.
2.    Memahami makna dan kandungan-nya.
3.    Berdoa kepada Allah I dengan nama-nama itu, yakni memuji-Nya dengan nama-nama itu dan memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.
Demikianlah, karena memang setiap nama itu akan melahirkan sikap ibadah tertentu pada diri seorang hamba ketika ia mengetahui maknanya dan memahaminya.
Ibnul Qayyim t menjelaskan: “…Maka setiap sifat Allah I memiliki pengaruh ibadah tertentu, yang merupakan konse-kuensi dari kandungan sifat tersebut dan kemestian dari ilmu tentangnya…”
Penjelasannya, bahwa seorang hamba (misalnya) ketika mengetahui bahwa Allah I sendirilah yang memberikan manfaat dan mudharat, memberikan karunia atau menghalanginya, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, maka itu akan membuahkan sikap ibadah kepada-Nya dengan tawakkal kepada-Nya dalam batinnya, dan akan menimbulkan konse-kuensi dari tawakkal serta buahnya secara lahiriah… Dengan ini maka seluruh ibadah kembalinya kepada konsekuensi kandungan Asma` dan Sifat. (Miftah Daris Sa’adah, dinukil dari Ziyadatul Imanwa Nuqsha-nuhu, hal. 188-189 dengan ringkas)
Atas dasar itu, kami merasa sangat perlu untuk mengisi rubrik ini dengan menerangkan satu per satu makna Al-Asma`ul Husna –yaitu nama-nama Allah I yang berada pada puncak kebaikan– secara berkesinambungan, walaupun mungkin terkadang diselingi dengan pembahasan lain jika diperlukan.
Allah I-lah yang memberi taufiq…
dan
Sebagian ulama mengatakan bahwa nama telah tersebut dalam Al-Qur`an pada 2360 tempat. (At-Tanbihat As-Sunniyyah, hal. 9)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa: “Nama itulah yang meliputi seluruh makna-makna Al-Asma`ul Husna dan sifat-sifat yang tinggi.” (dinukil dari Fathul Majid dengan tahqiq Al-Furayyan hal. 32)
Al-Farra`, Al-Kisa`i dan Ibnu Jarir menjelaskan bahwa kata asalnya dari kata lalu huruf hamzah digugurkan, sehingga huruf lam bertemu dengan huruf lam, kemudian di-idgham-kan, sehingga menjadi lam yang ber-tasydid.
Demikian pula dijelaskan oleh Ibnul Qayyim t, dan ini merupakan pendapat Sibawaih dan mayoritas (ahli bahasa) yang sependapat dengannya. (lihat Fathul Majid dengan tahqiq Al-Furayyan hal. 32, lihat pula Bada`i’ul Fawa`id, 1/22)
Nama Allah diambil dari kata:
yang berarti ibadah, sehingga berarti yang diibadahi. Oleh karenanya Ibnu ‘Abbas mengatakan: “ artinya yang memiliki sifat berhak untuk diibadahi atas seluruh makhluk-Nya.” (Syarh Al-Wasithiyyah, karya Al-Harras, hal. 7-8)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t mengatakan: “ artinya yang diibadahi dan yang ditaati, karena berarti , dan itu sendiri artinya yang berhak untuk diibadahi. Ia berhak untuk diibadahi karena Ia memiliki sifat-sifat yang mengharuskan untuk dicintai dengan kecintaan yang paling tinggi yang diberikan kepada-Nya dengan penuh ketundukan.”
Ibnul Qayyim t mengatakan: “ adalah yang diibadahi oleh qalbu dengan cinta dan pengagungan, inabah (kembali) dan pemuliaan, pembesaran dan penghina-an diri kepada-Nya, tunduk dan takut, berharap dan tawakkal.” (dinukil dari Fathul Majid dengan tahqiq Al-Furayyan hal. 68)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t mengatakan: “ artinya yang diibadahi, yang memiliki hak atas seluruh makhluk-Nya untuk dibadahi. Hal itu karena sifat uluhiyyah (diibadahi) yang Ia miliki, dan itu adalah sifat kesempur-naan.”
Di antara yang menunjukkan makna demikian adalah firman-Nya:
“Dan Dialah Allah (Yang diibadahi), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (Al-An’am: 3)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t mengatakan: “yakni yang diibadahi di langit dan di bumi.” (Syarh Al-Wasithiyyah, hal. 28)
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar